Ujian Manahij punya Nurlaili Amelia
Ali bin Ahmad Al-Wahidi
Nurlaili Amelia
Tugas Manahij Al-Mufasirin
STIQ Al-Multazam http://stiq.almultazam.ac.id/.
Nama lengkap beliau adalah Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Ali Al-Wahidi Asyafi’i. Al-Wahidi lahir pada tahun 398 H di daerah Khawali. Beliau mendapat gelar Al-Wahidi karena pada masa itu, beliau dianggap sebagai orang yang pada tingkat penguasaan dan pemahaman tarhadap al-Quran itu tinggi. Beliau merupakan seorang mufasir yang hidup pada abad ke IV H.
Al-Wahidi merupakan seseorang yang ahli dalam beberapa bidang ilmu pengetahuan, beliau juga banyak mempunyai karya, diantaranya dalam bidang;
*Ilmu Tafsir; karyanya kitab Al-basyth, Al-Wasith fi Tafsir Al-Quran Al-Majid, Al-Wajiz fi Tafsir Al-Quran Al-Karim, dan lain sebagainya.
*Ulumul Quran; karyanya kitab Asbabun Nuzul, Muqotil Quran, Risalah fi Syarfi Ilmi Tafsir, dan lain sebagainya.
*Ilmu Nahwu; karyanya kitab Al-Idrob fi ‘Ilmi I’rob
*Ilmu adab dan lainnya; karyanya kitab Syarah Di Wanul Mu’tanabi, Ada wathu Wal Masyhur, Al-Magoji, dan lain sebagainya.
Di dalam Ilmu Tafsir, Al-Wahidi menulis beberapa kitab. Diantaranya Al-Wajiz fi Tafsir Al-Quran Al-Karim, Al-Wasith fi Tafsir Al-Quran Al-Majid dan Al-basyth. Metode dalam penjelasan 3 kitab tafsir itu tidak jauh berbeda, namun dalam penjelasannya beliau membagi kedalam 3 level, yaitu Al-Wajiz fi Tafsir Al-Quran Al-Karim (singkat), Al-Wasith fi Tafsir Al-Quran Al-Majid (pertengahan), dan Al-Basith (luas). Didalam kitab Al-Wajiz fi Tafsir Al-Quran Al-Karim hanya terdapat satu pendapat yang paling tepat dan kuat, didalam kitab Al-Wasith fi Tafsir Al-Quran Al-Majid terdapat ragam dan alternative pendapat yang berbeda, dan didalam kitab Al-Basyth terdapat tambahan riwayat-riwayat dan penafsiran yang melenceng.
Awalnya Al-Wahidi hanya berniat menulis dua kitab tafsir saja, yaitu Al-Wajiz fi Tafsir Al-Quran Al-Karim dan Al-Basith. Namun setelah kitab-kitab itu ditulis, timbul keinginan untuk menulis kitab tafsir Al-Wasith fi Tafsir Al-Quran Al-Majid untuk menyeimbangkan keduanya, agar tidak terlalu singkat dan panjang.
Dalam menafsirkan Al-Quran Al-Wahidi menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran terlebih dahulu, kemudian Al-Quran dengan Hadits Nabi, Al-Quran dengan perkataan Sahabat dan Tabi’in, mencatumkan asbabun nuzul, menjelaskan lafadz-lafadz Al-Quran dengan perkataan ahli lugoh (bahasa) dan ahli ma’ani (balagah), mencantumkan pendapat fikih dan mencantumkan hadits tentang keutamaan setiap surat. Karya tafsir beliau termasuk tafsir bi al-ma’tsur. Metode yang digunakan menggunakan metode tahlili dan corak penafsirannya melalui pendekatan bahasa.
Al-Wahidi menulis kitab-kitab tafsir itu, berharap tulisannya bisa menjawab kebutuhan masyarakat muslim dalam memahami Al-Quran dengan baik dan benar, dan bisa menjadi solusi dalam permasalahan kehidupan. Beliau meninggal pada tahun 468 di Naisabur.
Komentar
Posting Komentar